Info Kontak:

:Jl. Raya Lawu No.75, Tawangmangu, Karanganyar 57792

: 0271 697320

: gkjtawangmangu@gmail.com

Pendeta:

  • Pdt. Drs. Dwi Anggono, M.Pd.K.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 06.00 ~ selesai

  2. Minggu, Pk. 08.00 ~ selesai

Profil dan Sejarah:

GEREJA KRISTEN JAWA TAWANGMANGU

(ANGGOTA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA)

Alamat : Jalan Lawu No. 75 Telp (0271) 697 320 Tawangmangu 57792

 
   

 

 

 

 

 

PROFILE GKJ TAWANGMANGU

 

Tawangmangu adalah daerah yang terletak di lereng Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar, Surakarta yang sangat terkenal karena memiliki obyek wisata alam Air Terjun Grojogan Sewu dan taman rekreasi lainnya. Tawangmangu terletak pada ketinggian lebih dari 950 meter di atas permukaan laut, suhu udaranya sejuk rata-rata              + 200C. Taman Wisata Grojogan Sewu sejak tahun 1969 ditetapkan menjadi kawasan perlindungan dan pelestarian alam, sehingga pemandangannya begitu alami tidak seperti obyek wisata buatan.

Yang lebih menarik dari semua itu, ternyata di Lereng Gunung Lawu yang letaknya jauh dari perkotaan ada benih yang tumbuh, yaitu GKJ Tawangmangu. Pada saat Inovatif tahun 2012 GKJ Tawangmangu beranggota sejumlah 768 orang warna anak. Digembalakan oleh 570 orang anggota majelis yang memiliki 6 tempat ibadah, semuanya adalah di: Tawangmangu, Gondosuli, Karanglo, Matesih, Karangpandan dan Ngargoyoso. Namun perlu diketahui bahwa antara induk dan pepanthan potensinya tidak jauh berbeda, baik jumlah warganya, kekuatan ekonominya maupun SDM-nya.

Benih yang tumbuh di lereng Gunung Lawu ini bermula dari keluarga Bp. Hadi Atmojo yang berasal dari GKJ Margoyudan Sala, menempati Tawangmangu pada tahun + 1930. Keluarga Bp. Hadi Atmojo tergolong kaya yang memiliki tanah perkebunan yang cukup luas. Untuk mengerjakan perkebunannya Bp. Hadi Atmojo mempekerjakan beberapa orang + 10 orang. Hubungan Bp. Hadi Atmojo dengan karyawannya sangat baik, sehinga ketika Bp. Hadi Atmojo memperkenalkan Injil kepada mereka mendapat sambutan positif. Dan mulailah ada persekutuan tiap hari Minggu.

Bersamaan dengan itu sekitar tahun 1934/1935 Klasis Surakarta Timur mengembangkan sayapnya untuk mengadakan penginjilan ke daerah: Jaten, Kismorejo, Matesih, dan Tawangmangu. Untuk daerah Tawangmangu sarana PI yang digunakan ialah dengan membuka poliklinik yang didirikan oleh Zending, yang pada tahun 1937 dipimpin oleh Bp. Ciptomaroyo sebagai Kepala Poliklinik (RS). Semua orang yang akan berobat diberi ceramah yang materinya diambil dari Alkitab. Hal ini menjadikan Injil semakin diwartakan dan juga kumpulan tiap hari minggu yang diadakan oleh Bp. Hadi Atmojo semakin bertambah.

Di lain tempat yaitu di Matesih benih pun juga ditabur Allah, sehingga ada 3 orang pengusaha batik yaitu: Ibu Wongsorejo, Ibu Trorejo dan Ibu Kromosetiko tersentuh hatinya untuk menerima Injil ketika mereka mendengar ceramah tentang Injil di rumah juragannya yang bernama Yo Kom Hok di Coyudan Sala, selanjutnya di Matesih ada pelayanan kebaktian yang dilayani dari GKJ Margoyudan atas usulan Yo Kim Hok.

Pada tanggal 13 Desember 1936 di Matesih ada Baptisan yang pertama yang dilayani oleh Pdt. Domene Van Ik 9 baptis dewasa dan 3 baptis anak. Dalam perkembangan selanjutnya Matesih menggabungkan diri dengan GKJ Sragen selama + 2 tahun. Dan kebaktian setiap Minggu bertempat di rumah ibu Wongsorejo.

Atas bantuan Yo Kim Hok, Matesih berhasil membangun sebuah gedung gereja. Tetapi setelah gedung gereja berdiri justru mendatangkan kebimbangan, gereja akan diserahkan kepada siapa karena wilayah Karanganyar belum ada gereja dewasa. Atas kesepakatan bersama tokoh-tokoh di Karanganyar pada tahun 1938 berdiri gereja  bersama GKJ Karanganyar. Pada waktu GKJ Karanganyar berdiri, tempat ibadah yang sudah ada di Bangsri, Karangpandan, Matesih, Tawangmangu, Karanganyar dan Kismorejo. Namun semuanya belum punya gedung sendiri kecuali Matesih dan Karanganyar semi permanen di Jetis.

Pada masa perkembangannya untuk jemaat yang berada di Tawangmangu ingin mendirikan gedung gereja. Gagasan ini mendapat dukungan dari Bapak Hadi Atmojo dan Bapak Citromaroyo sebagai orang yang mempunyai pengaruh besar di Tawangmangu. Akhirnya dibangun sebuah gedung gereja di atas tanah bekas Klinik Zending yang telah pindah. Tanah tersebut bersertifikat atas nama Bp. Ciptomaroyo. Gedung gereja selesai dibangun pada tanggal 23 Desember 1957. Pada tahun 1960 Tawangmangu kedatangan BRIMOB yang mana banyak yang beragama Kristen sehingga menambah banyaknya anggota jemaat di pepanthan Tawangmangu. Dengan datangnya BRIMOB di Tawangmangu jumlah warga gereja begitu pesat bertambah, terlebih peristiwa G30S/PKI yang terjadi pada tahun 1965 banyak orang yang masuk gereja namun usai peristiwa itupun juga banyak yang keluar.

Dalam pekembangannya pada tahun 1967 sudah banyak warga pepanthan Tawangmangu yang tempat tinggalnya di Gondosuli yaitu desa tertinggi di lereng Gunung Lawu, yang karena semakin berkembang maka di Gondosuli juga dilayani kebaktian sendiri. Untuk Karanglo dimulai dari dua keluarga yang mula-mula juga ikut kebaktian ke Tawangmangu yaitu Bp. Sukardjo sekeluarga dan Bp. Sutarman sekeluarga. Namun karena pertumbuhanya yang baik maka dilayani kebaktian sendiri. Demikian pula dengan pertumbuhan di Karangpadan dan Ngargoyoso pertumbuhannya pesat bahkan jumlah warganya lebih banyak dibanding Gondosuli dan Karanglo, maka kebaktiannya dilayani sendiri.

Periode berikutnya Bp. Suwito Utomo menjadi guru Injil di daerah Tawangmangu dan pada tanggal 28 Agustus 1968 GKJ Tawangmangu menjadi gereja dewasa dengan Tawangmangu sebagai induknya serta Gondosuli, Kalisoro, Karanglo, Matesih, Karangpandan, dan Ngargoyoso sebagai pepanthannya. Namun dalam perkembangannya pepanthan Kalisoro tidak berkembang bahkan akhirnya warga yang ada di Kalisoro minta ikut kebaktian di Tawangmangu. Pada tahun 1975 GKJ Tawangmangu mengangkat pendetanya atas diri Bp. Suripto Christoperus yang masih bujang.

Pada bulan Mei 1977 Bp. Suripto Christoperus menikah tetapi pada tahun 1982 pindak ke GKI Jabar. Selama 10 tahun dilayani pendeta konsulen yang kemudian pada tanggal 1 Desember 1989 mendapatkan pekerja gereja lulusan dari Institut Agama Kristen Surakarta (IAKS) yaitu Drs. Dwi Anggono juga masih bujang. Tanggal 28 Agustus 1992 ditahbiskan menjadi pendeta GKJ Tawangmangu dan menikah tanggal 10 Desember 1993 dengan Ibu Kristi Adi Purwaningsih dari Purwokerto. Hingga saat ini Pdt. Drs. Dwi Anggono, S.PK bersama 36 orang anggota Majelis melayani warga GKJ Tawangmangu di 6 tempat ibadah yang semuanya sudah memiliki gedung gereja. Tersebar di 4 kecamatan.

Dalam perkembangannya istilah Induk-Pepanthan diganti dengan nama WILAYAH. Sehingga tidak ada Induk dan Pepanthan lagi. Wilayah Gondosuli, Wilayah Tawangmangu, Wilayah Karanglo di Kecamatan Tawangmangu, Wilayah Matesih di Kecamatan Matesih, Wilayah Karangpandan di Kecamatan Karangpandan, dan Wilayah Ngargoyoso di Kecamatan Ngargoyoso.

Perlu kita ketahui juga para pelayan GKJ Tawangmangu yang belum disebutkan di atas, secara kronologis adalah sebagai berikut:

 

  • Mitrotanoyo (dari Wonogiri)
  • Gino dan Ds. Urip (dari Sala, sampai tahun 1950)
  • Rekso Darmojo (Sampai tahun 1960)
  • Edi Trimodoroempoko
  • Suwito Utomo (guru Injil)
  • Mardiyono (dari Karanganyar yang saat itu masih pepanthannya GKJ Margoyudan sebagai majelis)
  • Kareci, Bp. Lasmono, Bp. Sartono, Bp. Marno, Bp. Marjo (Anggota majelis yang menghantar sampai pendewasaan)
  • Suripto Ch. (Pendeta pertama GKJ Tawangmangu yang ditahbiskan tahun 1975 dan beralih tugas pada tahun 1982)
  • Siswondo H.P., Pdt. M. Gitoseputro, Pdt. Amirin Bintoro (Pendeta konsulen ketika GKJ Tawangmangu tidak ada pendetanya)
  • Drs. Dwi Anggono, M.Pd.K (Pendeta GKJ Tawangmangu ditahbiskan pada tanggal 28 Agustus 1992 yang melayani sampai sekarang)

Demikian sekilas profile GKJ Tawangmangu yang sampai sekarang terus bekerja menuju gereja yang misioner.