Info Kontak:

: Kaliwangan Lor, Temon Kulon, Kulonprogo, Yogyakarta 55654

: 0274-7486030

: gkj.temon@gmail.com

Pendeta:

  • Pdt. Kristian Prawoko, S.Th.,M.Min.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, 07.00 WIB Induk Bhs. Indonesia KJ (Ket: Kebaktian Minggu ke-IV dgn Ny. Populer Rohani),
  2. Minggu, 09.00 WIB Induk Bhs. Jawa KPJ,
  3. Minggu, 09.00 WIB Pep. Seling Bhs. Jawa KPJ,
  4. Minggu, 18.00 WIB Pep. Seling Bhs. Indonesia KJ,
  5. Minggu, 09.00 WIB Pep. Glagah (Ket: Kebaktian Minggu ke-I, II, III Bhs. Indonesia KJ dan Minggu ke-IV, V Bhs. Jawa KP),
  6. Minggu, 07.30 WIB Pep. Kalidengen(Ket: Kebaktian Minggu ke-I, III Bhs. Indonesia KJ dan Minggu ke-II, IV, V Bhs. Jawa KPJ). NB : Khusus Kebaktian Minggu ke-IV baik induk dan Pep., Pada jam kebaktian dgn. Bhs. Jawa Ny. dari KPK Lami.

Profil dan Sejarah:

Sejarah GKJ Temon Dalam Konteks Sosial Budaya Jawa

  1. Masa Cikal Bakal Jemaat (1884 – 1899)
  2. Konteks Sosial-Budaya-Religiositas

Temon sebuah kota kecamatan, letaknya paling barat wilayah kabupaten Kulon Progo,Yogyakarta, berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Wilayah Temon meliputi pesisir pantai selatan hingga sebagian dari pegunungan Menoreh. Wilayah yang terlewati jalan raya Yogyakarta-Purworejo, sebagaimana penduduk Jawa pada umumnya, hidup berpencaharian agraris sifatnya, oleh sebab itu, latar belakang kepercayaan dan kebudayaannya juga berkaitan erat dengan alam agraris.

Asal-muasal nama Temon ini dalam kaitannya dengan kehidupan roda perekonomian. Nama tersebut berkaitan dengan tempat pertemuan kegiatan ekonomi. Agar hari pasaran Jawa tidak terjadi bersamaan waktu maka diadakan kesepakatan. Pertemuan itu dilakukan antara lain perwakilan orang Jawa (Tengah, Timur) dan Sunda untuk menyepakati hari pasaran. Kata temon berasal dari kata temu + an. Dalam bahasa Jawa kata temu + an, u + a dalam persandian bahasa Jawa menjadi o, sehingga temu + an menjadi temon.  Dalam pada itu disebut temon, karena menjadi tempat pertemuan para pedagang untuk penentuan batas kegiatan ekonomi Jawa bagian selatan, yang difasilitasi oleh pemerintah kolonial Belanda. Dalam pertemuan itu menghasilkan kesepakatan berkenaan dengan hari pasaran. Hari pasaran Temon ke barat sampai Banten mempergunakan hari pasaran nasional (Senin – Minggu). Misal hari pasaran (tradisional) di pasar Temon (hingga kini) Senin dan Kamis. Sedangkan Temon ke timur  sampai Banyuwangi, mempergunakan hari pasaran Jawa ( Legi – Kliwon). Misal hari pasaran di pasar (tradisional) Panjatan, Wates adalah Pahing.  Dengan adanya kesepakatan itulah maka nama tempat pertemuan itu disebut dengan Temon. Nama ini dipergunakan sejak tahun 1830-an, paska perang Diponegoro (1825-1830). Oleh pemerintah kolonial Belanda, Temon dipakai sebagai salah satu pusat administrasi dalam pengerjaan jalan (raya) lintas selatan dan jalan kereta api. Mengingat tempat ini menjadi  (salah satu) tempat strategis kegiatan ekonomi rakyat.

Sebagian besar penduduk Temon pada waktu itu beragama Islam. Keislaman mereka kebanyakan Islam abangan. Ada sebagian kecil yang menjadi Islam putihan, yang menjalankan rukun Islam serta syariat Islam secara disiplin. Yakni mereka yang menjadi santri lulusan suatu pondok pesantren di luar daerah. Masyarakat Islam Temon, atau tepatnya disebut masyarakat yang beragami Jawi karena unsur-unsur Jawa lebih dominan dilakukan ketimbang rukun Islam. Sebagai penganut agami Jawi lebih responsif terhadap ngelmu tinggi, yang menekankan persoalan-persoalan mengenai sangkan paraning urip (asal dan tujuan hidup).

            Keadaan masyarakat Temon seperti dilukiskan di atas, agaknya ikut mempengaruhi dan melatarbelakangi cara berpikir orang Temon, yang bercorak mistik, totalistik, sinkretistik, samar-samar (tidak tegas hitam atau putih), suka simbol dan lambang serta gambaran-gambaran simbolik, suka mengusahakan sesuatu dengan modus vivendi (cara hidup). Demikian pula halnya dengan keadaan masyarakat Temon pada zaman itu, dengan berpencaharian agraris, Islam abangan, dan keadaan kerohanian yang terbuka, terbukti menerima Agama dan kepercayaan apa pun yang datang dari luar. Namun demikian mesti menerima, mereka juga tertutup dalam hal tetap mempertahankan Agama dan kepercayaan yang dimiliki sebelumnya (Animisme-Dinamisme). Agama menurut mereka diibaratkan sebagai jalan atau pakaian. Sehingga mereka sering menyatakan bahwa semua Agama baik, bukti keterbukaan masyarakat Jawa waktu itu. Dalam perjalanan waktu akhir abad XIX, agama Kristen yang hadir di tengah-tengah mereka dipahami sebagai elmu baru, bagi mereka elmu itu patut paguroni (ditimba keilmuannya).

  1. Injil Dari Perbukitan Bagelen (1884)

Bibit kawit orang Kristen di Temon adalah Ranoetika, keluarga Wiroreso, serta keluarga ibu Gunemtrantiko-Setrosetiko. Dari ketiga keluarga besar inilah kekristenan di Temon semakin hari semakin berkembang. Adapun asal-muasal ketiga keluarga ini menjadi Kristen adalah keaktifan mereka mengikuti  pengajian Kristen.  Bagi mereka yang berlatar belakang Islam Abangan, dengan adanya pengajian elmu baru (Kristen) adalah hal yang mesti untuk tidak disia-siakan. Adapun guru ngaji elmu Kristen berasal dari Jelok (utara Bagelen) bernama Simon Wirasana adalah penatua jemaat di Jelok, yang juga sebagai pekabar Injil awam semasa kekristenan Sadrach  (Soetarman S. Partonadi, Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya, hlm. 240-250).

Setelah dianggap cukup pengajian Kristen itu, tibalah waktu mereka dibaptis. diberitahukan bahwa pelaksanaan baptisan bertempat di Jelok, karena Pdt. J. Wilhelm yang akan membaptis tidak diperbolehkan membaptis di wilayah kasultanan Yogyakarta. Bagi Ranoetika dan kerabat yang lainnya, baik dari Temon maupun Selong, tidak menjadi masalah berarti bila harus dibaptis di Jelok. Bahkan dipesan agar membawa bekal harian untuk beberapa waktu tinggal di Jelok. Hal itu untuk mengantisipasi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Bisa jadi setelah mereka  dibaptis dan sudah Kristen, mereka akan mendapatkan sangsi karena sebagai  rakyat  Yogyakarta yang katanya dilarang beragama lain kecuali Islam.

Tibalah waktu yang ditentukan Ranoetika dan kerabat lain dari Temon dan Selong berangkat menuju ke Jelok. Di sana mereka diantar ke suatu rumah menyerupai masjid. Tahulah mereka akhirnya bahwa rumah itu adalah rumah gereja. Tahun 1884 dilaksanakan baptisan untuk pertama kalinya bagi orang Temon dilaksanakan di Jelok oleh Pdt. J. Wilhelm atas diri Ranoetika dan kerabat lainnya. Adapun Ranoetika ketika dibaptis mendapat nama Kristen yakni Yohanes.

Setelah Yohanes Ranoetika beserta rombongan dari Kaligondang, Temon (yakni asal dari keluarga Ranoetika), Selong dan Prangkokan dibaptis di Jelok, mereka sementara waktu tinggal di Jelok. Setelah mereka diberi tahu bahwa tidak ada sesuatu hal yang ditakutkan karena telah berpindah agama menjadi Kristen, maka Yohanes Ranoetika dan semua anggota rombongan itu pulang ke tempat masing-masing. Dan benar, tidak ada permasalahan apa-apa sehubungan dengan kasultanan Yogyakarta. Dengan catatan tidak menggunakan nama tambahan saat dibaptis, tetap dengan nama semula. Hal itu agaknya menjadi kebiasaan bagi jemaat Kristen di wilayah Yogyakarta khususnya di Temon setelah dibaptis tidak mendapat tambahan nama baptis.  Mereka kembali beraktifitas seperti biasanya, di tempat tinggal masing-masing. Setelah baptisan itu, di antara mereka dengan semangat menceritakan pengalaman baru sebagai orang Kristen. Agaknya banyak di antara mereka yang tertarik. Merekapun akan datang bila ada pengajian elmu Kristen lagi.

  1. Ketika Injil Tumbuh Subur di Tanah Temon (1885-1890)

Setelah peristiwa baptisan bagi rombongan Ranoetika (tahun 1884), kegiatan pengajian elmu Kristen, semakin giat saja. Mengingat pesertanya semakin banyak, dan kapasitas tempat tidak mencukupi, maka untuk peserta pengajian dari Selong, Palihan, akan dilayankan tersendiri di Selong. Setahun sudah berlalu, perkumpulan Kristen, baik di Kaligondang maupun Selong semakin banyak orang yang mengikuti. Di Temon sendiri, ada sekitar 20-an orang, belum yang di Selong.

Setahun setelah kekristenan bertumbuh di Temon dan sekitarnya, terjadilah peristiwa yang menggoncangkan. Adanya  peristiwa Tengger Brosot, di mana orang Kriten difitnah sebagai yang mendirikannya. Di antara orang Kristen Temon takut dicap sebagai pemberontak, sehingga secara teratur banyak yang mundur dari paguron Kristen. Kekristenan yang sedang tumbuh subur, mengalami kegoncangan hebat. Orang Kristen di Temon yang semula telah mantap mengalami kemunduran. Maka demi menyelamatkan diri dari ancaman akibat tuduhan-tuduhan yang palsu, banyak di antara mereka yang akhirnya keluar dari kekristenan.

Tidak demikian bagi kerabat Ranoetika, walaupun banyak di antara kerabat Kristen yang akhirnya mundur karena takut ikut dicap pemberontak, dia tetap tegar dan tekun sebagai Orang Kristen.  Apalagi Kyai Sadrach sebagai guru yang bertanggungjawab, sekali waktu sering mengunjungi pengikutnya termasuk di Temon dan Selong. Dalam pada itu kekristenan mulai tumbuh kembali. Baptisan bagi orang Temon kedua kalinya kecuali atas keluarga Ranoetika, yakni keluarga Kromodrono, anak menantunya, juga kerabat yang lain dari Glagah, Kaligondang dan Selong. Kekristenan berkembang sangat pesat. Kharisma Sadrach benar-benar menebar pesona begitu besar. Periode tahun 1885 –1890 kekristenan di Temon mengalami perkembangan yang sangat cepat, sudah ada ratusan orang Temon yang menjadi Kristen.

Di samping itu orang Temon yang menjadi Kristen, tidak merasa berbeda kebiasaan seperti sebelum menjadi Kristen. Mereka tetap sebagai orang Jawa seperti lainnya, karena kekristenan yang diajarkan oleh para pengikut Sadrach. Bahkan penekanan pada spiritualitas dan kelestarian adat Jawa dalam kehidupan jemaat juga menambah daya tariknya. Bagi orang Temon sebagai orang Jawa, setelah masuk Kristen, justru kejawaan mereka merasa menjadi lebih bermakna.

 

  1. Panenan Injil  Tertimpa Bencana (1891-1892)

Masa panenan Injil besar-besaran di Jawa Tengah, dimulai oleh para pembantu Philips-Stevens, yakni Abisai Reksadiwangsa, Taroeb, dan kemudian Sadrach, mengalami ‘malapetaka’ hebat. Berita yang didengar bahwa Pdt. J. Wilhelm – yang diutus oleh badan Zending NGZV (Nederlandche Gereformeerde Zendings Vereeniging), yang dengan senang hati melayani sakramen baik baptisan maupun perjamuan kudus bagi orang Kristen Jawa, juga sering bersama Sadrach melakukan kunjungan ke jemaat-jemaat – mendadak meninggal dunia. Wafatnya Pdt. J. Wilhelm menimbulkan banyak tanya tanya bagi  Ranoetika dan kerabat Kristen di Temon. Cara meninggal Pdt. Wilhelm agaknya ada kaitannya dengan kekecewaan mendalam yang ia alami. Maka masa-masa sepeninggal Pdt. J. Wilhelm sangat mempengaruhi kekristenan orang Jawa karena pelayanan baptis dan perjamuan kudus tidak lancar seperti Pdt. J. Wilhelm masih melayani.

Kekristenan  yang terjadi di Purworejo, berimbas langsung di Temon. Kekristenan yang baru tumbuh sumbur itu, tertimpa musibah konflik ajaran yang begitu merisaukan. Akhirnya, rasa damai yang sebelumnya dialami oleh orang-orang Temon yang menjadi Kristen, pupus sudah. Justru setelah masuk Kristen mereka menjadi tidak nyaman hidupnya. Tidak sedikit tetangga dan kerabat yang mulai menyingkiri mereka karena masuk Kristen, kini diperhadapkan dengan permasalahan kekristenan itu sendiri. Sebagian kerabat Kristen yang masih labil itu, berbalik kepada kepercayaan lama, dan meninggalkan kekristenan. Namun tidak bagi Ranoetika, Gunemtrantiko dan Wiroreso. Ia dan keluarganya telah mantap berpredikat  Kristen. Walaupun ia dan sebagian kerabatnya, akhirnya memilih bergabung dengan kekristenan zending, lebih dipahami sebagai upaya mencari aman.

  1. Kristen Jawa Mulai Berbaju Barat  (1892-1900)

Bagi Ranoetika dan sebagian kerabat Kristen di Temon, ketika terjadi ‘konflik’ antara Sadrach dengan badan zending NGZV, dan akhirnya dia dan sebagian kecil kerabat Kristen memilih bergabung dengan Gereja Zending Gereformeerd, sebagai pilihan yang  tidak lebih sebagai perlindungan dan rasa aman. Baginya kekristenan cara zending tentunya tidak akan mengalami masalah lagi, sebab biar bagaimanapun zending sulit dibedakan dengan Belanda baik secara sosial-politik maupun kekristenan. Tokh demikian ketika harus melepaskan kekristenan yang asimiliatif terhadap adat Jawa, kemudian harus menjalani kekristenan zending yang antagonis terhadap adat-istiadat –tradisi Jawa, menjadi hal yang sangat berat.  Hal ini terjadi setelah tidak berselang lama  Pdt. Wilhelm wafat (1892), badan misi NGZV berakhir dan diganti dengan Zending Gereformeerd Kerken Nederlands (ZGKN).

Misionaris Gereja (ZGKN) ini mulai gencar menebarkan pengaruhnya bahwa ajaran Kristen yang telah diterima sebelumnya (melalui pekabar Injil awam), harus dimurnikan karena sudah menyimpang. Dari sinilah pranata-pratana baru dengan adanya larangan-larangan bagi kekristenan mulai muncul. Dari cara berpakaian hingga anak-anak main dolanan. Semua diatur untuk membuktikan ‘kemurnian Kristen’ dari anasir-anasir Jawa yang dianggap menyesatkan. Larangan-larangan itu antara lain, bila tetap menjadi orang Kristen yang benar sarung yang mereka pakai harus diganti dengan pantalon, harus mengenakan sepatu, harus berambut pendek, tidak boleh mendengarkan gamelan, tidak boleh melihat pertunjukan wayang, tidak boleh disunat, tidak boleh hadir dalam slametan dan kendhuren, tidak boleh menyanyikan tembang, tidak boleh membersihkan kuburan nenek-moyang, anak-anak tidak boleh bermain dolanan seperti macanan, cirak, dsb. Semua larangan tersebut dimaksudkan untuk mengasingkan orang Kristen Jawa dari lingkungannya, dan bukan karena alasan teologis yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun lebih bernuansa politis  superioritas. Karena itu dalam kecemburuan dilontarkanlah berbagai tuduhan yang berkedok teologis bahwa Sadrach telah melakukan sinkretisme, bahwa ia adalah guru ngelmu yang mencampuradukkan Kejawen, Hindu dan Islam.

Kekristenan di Temon semenjak campur tangan para zendeling Belanda semakin menunjukkan perubahan yang mencolok. Kekristenan yang mula-mula bersifat asimilatif menjadi antagonis-kontradiktif terhadap adat dan tradisi Jawa. Sikap superioritas para misionaris Zending yang menganggap bahwa kekristenan harus menaklukkan adat-istiadat setempat. Klaim bahwa adat-istiadat setempat belum beradab menurut kacamata para misionaris itu, sehingga adat-istiadat dan tradisi Jawa harus disingkirkan dari Kekristenan. Orang-orang Jawa yang telah menjadi Kristen harus secepat mungkin ‘diselamatkan’ dari dosa dan kekafiran, karena melakukan adat-istiadat dan tradisi Jawa. Pengajaran yang natagonis terhadap adat-istiadat dan tradisi Jawa inilah yang selanjutnya disebut ‘budaya Kristen’ atau peradaban Kristen.

Kedatangan misi Barat yang diutus Gereja, menggantikan Badan zending NGZV, semakin mempertegas jarak antara kekristenan Jawa Zending dengan kekristenan Sadrach. Hal ini juga yang akhirnya terjadi penegasan aliran kekristenan Sadrach dan kekristenan Zending. Kekristenan di Temon pada tahun 1894, menyatakan lepas dari kekristenan Kyai Sadrach, dan tunduk kepada NGZV (Nederland Gereformeerd Zending Vereniging). Waktu itu warga Kristen Temon tinggal 32, sebagian yang lain masih ikut Kerasulan di Selong.  Kekristenan di Temon memang tidak mandiri dalam sikapnya, karena semenjak awalnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kekristenan di Purworejo, baik semasa nyonya Philips-Steven, Abisai, hingga Sadrach. Maka gonjang-ganjing ‘perseteruan’ antara Sadrach dan Zending Gereformeerd sangat mempengaruhi kekristenan di Temon. Ketegasan Sadrach bergabung dengan Gereja Kerasulan, dengan sendirinya orang Kristen Temon, banyak yang berbondong-bondong menjadi bagian dari Gereja Kerasulan. Terbukti pada tahun 1899 orang Kristen di Temon yang masih mau bergabung dengan Zending hanya 32 orang. Mereka itu adalah keluarga besar dari Ranoetika, Gunemtrantiko dan Wiroreso.

Kesan adanya pengaruh kuat pemaksaan “budaya Kristen” dimulai terlegitimasi dengan tampilnya wajah kekristenan dari Jawa timur yang ‘berekspansi’ ke Jawa Tengah. Adalah Yohanes Emde, seorang Kristen keturunan Jerman yang bermukim di Ngoro Surabaya, menyusun sepuluh perintah Tuhan  tambahan sebagai pedoman kehidupan orang Jawa yang menjadi Kristen. Sepuluh perintah Tuhan tambahan itu sebagai berikut :

  1. Potonglah rambutmu pendek-pendek (umumnya laki-laki pada saat itu berambut panjang).
  2. Jangan memakai ikat kepala di gereja.
  3. Jangan mendengarkan gamelan.
  4. Jangan menonton wayang.
  5. Jangan melakukan khitanan/sunat.
  6. Jangan menyelenggarakan selamatan.
  7. Jangan menyanyikan tembang.
  8. Jangan merawat kuburan.
  9. Jangan menabur bunga di makam
  10. Jangan membiarkan anakmu bermain-main (supaya tidak terpengaruh oleh anak tetangga yang tidak Kristen).

Sepuluh perintah tambahan produk Emde ini tidak hanya berlaku di Jawa Timur, tetapi kekristenan di Jawa Tengah mengalami “pemberlakukan” itu. Hal ini tampak jelas dalam prakteknya sejak awal berdirinya jemaat di wilayah Jawa Tengah termasuk di Temon. Memasuki masa-masa jemaat Kristen di Temon didewasakan (1900),  semakin mengkristallah juga “budaya Kristen” bagi orang Temon. Tentu bagi orang Kristen Temon yang setia kepada Zending, sepuluh perintah tambahan ini, selanjutnya menjadi pedoman yang sangat penting, karena itu dianggap yang benar.

Dalam pada itu, kekristenan di Temon waktu itu oleh oleh masyarakat sekitarnya dihormati, namun dengan setengah hati. Dihormati, karena sebagian besar orang Kristen telah menjadi tuan, masuk dalam jajaran/golongan priyayi sedang masyarakat umumnya hanya wong cilik. Apalagi setelah banyak generasi kedua dari orang Kristen itu, yang menyenyam pendidikan ala Zending. Ada yang bersekolah juru mantri, guru Injil, maupun sekolah guru umum yang didirikan Zending. Pada gilirannya mereka kebanyakan menjadi guru Injil, juru mantri dan guru.  Status mereka berubah, dari keluarga petani dan akhirnya menjadi priyayi. Mereka dihormati karena status dan pekerjaannnya. Namun penghormatan masyarakat setengah hati, karena orang Kristen dianggap bukan lagi menjadi bagian dari masyarakat Jawa pada umumnya. Kebiasaan dan gaya hidup orang Jawa yang menjadi Kristen tidak lagi Jawa tetapi Belanda. Tidak lagi melakukan adat-istiadat dan tradisi Jawa. Dan pada masa-masa inilah Kekristenan Zendeling di Temon mengalami penguatan, karena munculnya para priyayi Kristen yang  yakni para guru, mantri kesehatan dan guru sekolah zending, yang berpegang teguh pada ajaran zendeling.

Ketika mula pertama orang Kristen Temon ‘mematuhi’ para zendeling Belanda agar meninggalkan adat-istiadat dan tradisi Jawa, sangatlah kikuk (merasa serba salah). Yang semula bisa bergaul dengan semua warga masyarakat, menjadi tidak lagi. Semula dengan leluasa ikut kenduri, menjadi menutup diri. Apalagi pada masa itu, golongan Islam mulai menunjukkan ke-sinis-annya terhadap orang Kristen. Dari situlah muncul cibiran-cibiran yang dilontarkan secara tidak langsung berhadapan dengan orang Kristen. Cibiran itu antara lain Agama Kristen, agama thoet (katak). Orang Kristen kalau mati jadi celeng (babi). Mengapa disebut agama thoet, tidak mengetahuinya, mengapa disebut demikian mungkin sekenanya saja. Kedua sebutan itu juga untuk menyindir bahwa orang Kristen berkumpul dan mulai beribadah bila sudah ada bunyi tet-tet (bel listrik) dan thengkleng-thngkeng bunyi lonceng.

Kehadiran Guru Injil Moesa Wasman di tengah-tengah kumpulan Kristen di Temon sejak tahun 1897, sangat membantu para penginjil Zendeling dalam rangka meletakkan dasar kekristenan Barat. Moesa Wasman orang kelahiran Tegal (Jawa Tengah), sudah beberapa waktu membantu pelayanan PI di Purworejo. Ayahnya  yakni Simeon Wasman  juga  guru Injil di Tegal semasa Pendeta Ph. Bieger.  Moesa Wasman muda diajak oleh pendeta Ph. Bieger dari Tegal, mengingat dia tidak fasih bahasa Jawa, sementara Moesa Wasman selain tentu mahir bahasa Jawa juga pandai berbahasa Belanda. Oleh Pendeta Lion Cachet ketika inspektur zending  berkunjung dalam rangka penyelidikan perihal kekristenan Kyai Sadrach, Moesa Wasman dipilih menjadi pendampingnya.  Berkat ketekunannya dalam pelayanan pekabaran Injil, kekristenan di Temon semakin tumbuh berkembang sebagai Pasamuwan Kristen Gereformeerd. Bahkan sekolah Kristen (Sekolah Zending) didirikan. Sekolah tersebut kini menjadi Sekolah Bopkri Temon.

Ada andil yang besar tentunya atas suksesnya pekabaran Injil Moesa Wasman di Temon karena ia memperistri Martinah anak tertua dari Kromoreso pada tahun 1896. Setahun sebelum ia ditugaskan sebagai guru Injil di Temon. Terbukti keluarga besar dari Kromoreso, bahkan keluarga besar Ranoetika, ayah Kromoreso, semakin banyak yang menjadi Kristen. Dengan demikian semakin kuatlah kekristenan di Temon yang bercorak Gereformeerd. Dan itu juga berarti kekristenan ‘keluarga’. Namun memasuki masa pendewasaan itu Yohanes Ranoetika sudah keburu berpulang ke rumah Bapa di sorga. Kekristenan di Temon kemudian selain disuhi oleh Guru Injil Moesa Wasman, juga oleh Petrus Kromoreso yang dibaptis yang pada pada tahun 1898. Yang tiada lain adalah menantu dan anak dari Yohanes Ranoetika.

  1. Masa Jemaat Dewasa (memerintah sendiri) (SELFREGEERING) (1900-1939) 
  2. Pendewasaan Yang Semu

Pengertian sebagai jemaat dewasa adalah mampu menata dan mengatur kehidupan jemaat setempat oleh diri mereka sendiri. Dalam konteks ini selanjutnya dibedakan antara kedewasaan yang berarti memerintah sendiri (adanya penatua +diaken) (Selfregeering) dengan kedewasaan penuh (berpendeta jemaat) (Zelfonderhoud), serta dewasa dalam berdaya secara dana dalam melakukan Pekabaran Injil (Zelfruitbreiding) Kedewasaan belum penuh bila jemaat itu sudah ada penatua dan diaken namun belum berpendeta setempat, sedang kedewasaan penuh bila jemaat itu telah memiliki pendeta jemaat sendiri, serta mampu menghidupi jemaat itu sendiri dan membantu jemaat lain yang belum mampu.

Pada tahun  Perubahan paradigma pekabaran Injil di Gereja Belanda. Melalui sinode Middleburg (1896), pekerjaan Zending di Jawa Tengah Selatan diserahkan kepada Gereja Gereformeerd di negeri Belanda. Gereja-gereja setempat di Belanda berhubungan langsung dengan geredja2 setempat se Djawa yang baru muntjul misalnya Utrecht dengan Purworedjo. Setelah  pengambilalihan pekerjaan Zending itu, tidak berselang lama jemaat di Purworejo dan di Temon didewasakan. Pendewasaan pepanthan Gereja-gereja Jawa pertama kali terjadi atas gereja Purworejo (4 Pebruari 1900) tak lama kemudian disusul pepanthan Temon.  Sayang tujuan pendewasaan itu lebih bersifat pamer kebisaan kepada Golongane Wong Kristen “Jawa” kang Mardhiko pimpinan Sadrach untuk membuktikan bahwa zending tidak bermaksud lain kecuali mendirikan gereja-gereja Jawa dengan pendeta-pendeta Jawa. (Agenda Sinode GKJ 2007).

Baptisan pertama kali di Temon pada tanggal 27 Maret  1898 dilayani oleh Pdt. L. Andriaanse bagi sembilan orang. Mereka itu adalah tujuh  anak dari Petrus Kromoreso, yakni Sarinem Martinah (istri Guru Injil Moesa Wasman), Sariyem, Toegiman ( nantinya menjadi Guru Injil di Kesingi dan sekitarnya dengan nama lengkap Toegiman Siswowijogo), Kemi, Kinah, Kemen, Ismail dan Parinem. Sedangkan dua orang lainnya adalah anak Daniel Kromodrono yakni Toegia (nantinya menjadi Guru Injil di Jenar, dan juga di Temon sepeninggal Moesa Wasman(1911) dan Senik.

Baptisan tersebut dilaksanakan di rumah milik Kromoreso bersaudara, yang letaknya di dusun Kaliwangan Lor, Temon Kulon.  Rumah ini selanjutnya diserahkan untuk tempat ibadat. Rumah gereja ini tidak berselang lama kemudian dibangun secara permanen menjadi gedung gereja atas bantuan dari Gereja Gereformeerd di Utrecht, setelah ada permohonan resmi dari Majelis Gereja Temon. Bangunan gereja itulah yang hingga kini menjadi gedung gereja jemaat GKJ Temon. Gedung gereja itu dipergunakan untuk kegiatan kegerejaan hingga berumur 100 tahun, yang tentu sudah mengalami beberapa kali perbaikan mengingat bangunan semi permanen. Baru kemudian direhab Kembali pada tahun 2002-2003. Termasuk juga rumah tabon (rumah induk) Ranoetika (letaknya sebelah utara gereja) semula sebagai tempat bermalam dan aula tempat pengajaran agama Kristen yang tiap Sabtu malam bila pendeta Zending hendak melayani sakramen atau peneguhan di hari Minggunya. Dalam perkembangan selanjutnya rumah tabon ini diserahkan untuk rumah pendeta (pastori).  Lahan tanah seluas kurang lebih 4.400 m2, hingga kini menjadi kompleks GKJ Temon sebagai tanah hibah  Kromoreso bersaudara termasuk Ibu Waginem. Ibu Waginem ini sehari-hari sebagai penjual jamu tradisional. (Dialah nenek dari alm. Bapak DR Radius Prawiro). Bagi keluarga besar Ranoetika selain dengan sukacita menghibahkan tanahnya untuk kepentingan Gereja, juga karena luasnya lahan sawah maupun pekarangan yang mereka miliki.

Pada kebaktian hari Minggu 11 Maret 1900 pdt. L. Andriaanse menetapkan Jemaat Kristen Jawa Temon sebagai jemaat mandiri di bawah asuhan Gereja Gereformeerd. Jemaat Temon dimandirikan sebagai Pasamoewan Kristen Gereformeerd ing Temon, jumlah warga pada saat itu berjumlah 36 orang.  Pendewasaan gereja di Temon itu tidak berselang lama, sekitar satu bulan setelah jemaat di Purworejo yang terlebih dahulu didewasakan.

Sejak peristiwa baptisan pertama di Temon oleh Pdt. L. Andriaanse (1899), barangkali menumbuhkan pemikirannya bahwa kumpulan Kristen di Temon untuk juga segera didewasakan. Hal ini tampak kalau mencermati  surat yang dikirimkan oleh Pdt. L. Andriaanse kepada Majelis Gereja Gereformeerd di Utrecth yang menyebutkan antara lain: Penetapan sebagai gereja mandiri itu ditandai dengan ditetapkannya guru Injil Moesa Wasman dan Sastrakarja sebagai penatua. Guru Injil Moesa Wasman yang oleh Pendeta L. Andriaanse dipercaya menjadi penatua di Temon. Sedang Sastrakarja adalah orang asli Temon juga diteguhkan menjadi penatua karena telah mahir baca dan tulis, dibanding warga jemaat lainnya yang masih buta huruf. Dalam peristiwa penetapan pendewasaan jemaat Kristen Temon diserahkan  alat sakramen baptis dan perjamuan kudus oleh Pendeta L. Andriaanse. Alat sakramen ini sudah lama tidak lagi digunakan dan sekarang terpampang di kantor GKJ Temon.

Penetapan penatua (tua-tua) jemaat pada kumpulan jemaat disebut sebagai pendewasaan jemaat itu, karena dengan ditetapkannya penatua maka jemaat itu mengatur dan melaksanakan kegerejaannya secara mandiri. Namun hal yang patut dicatat bahwa pendewasaan jemaat di Temon, jelas belum waktunya, mengingat masih minimnya sumber daya, dana dan apalagi teologia.

Sejak didewasakan Jemaat di Temon mendapat support dengan adanya guru-guru Injil didikan Opleiding School van de Helper bij de Dienst Woords (Sekolah bagi Pembantu-pembantu pada pelayanan Firman Tuhan / sekolah Guru Injil) Yogyakarta. Selain itu juga dibantu juga dengan adanya guru-guru sekolah zending dan mantri jururawat rumah sakit dan poliklinik zending. Baik Guru Injil, Guru sekolah zending maupun mantri jururawat inilah para penumbuh dan pemimpin gereja Jawa sesungguhnya. Sebelum jemaat Temon berpendeta jemaat sendiri muncul nama-nama Guru Injil setelah Musa Wasman menjadi penatua jemaat Temon, yang sebelumnya juga menjadi guru Injil meninggal pada tahun 1911, maka datanglah guru Injil M Toegia, lulusan  kursus theologie 2e afdeeling Keucheniusshool yang pertama. Kemudian Aristarkus Tardjo Danoemihardjo. Pengajaran Kristen bagi jemaat cukup efektif dengan hadirnya Guru-guru Injil ini. Selain memantapkan kekristenan warga, juga pemberitaan Injil sampai ke desa Kaligintung, Kedundang, Glagah, Palihan, juga Karangwuni. Dalam pada itu pertambahan warga semakin meningkat.

Dari jemaat Temon banyak melahirkan Guru-guru Injil yang melayani di banyak tempat, selain putra daerah yang melayani di temon sendiri yakni M. Toegia dan Aristarkus Tardjo Danumihardjo. Mereka itu antara lain Thomas menjadi Guru Injil di Sidareja (Cilacap), Merto Sadi di Magelang, Eliada di Mangiran (Bantul), Toegiman Siswowijogo di Kesingi, Dulah Sastro Winarto di Palihan. Demikian juga Sastrakarja yang semula menjadi penatua di Temon, tidak berselang lama kemudian menjadi Guru Injil di Kalipenten, Sentolo. Kebanyakan dari mereka itu adalah anak dari Kromoreso, Kromodrono dan Sastrakarja. Demikian juga melahirkan generasi selanjutnya yang menjadi pendeta antara lain Poerbowiyogo (GKJ Patalan),  Suparmo Hardjowasito (GKL Lampung). Selama hampir 40 tahun setelah didewasakan (1900-1940), warga jemaat Kristen Gereformeerd Temon. Demikian pula  banyak di antaranya yang pergi dan pindah di luar daerah, seperti Malang, Magelang, Yogyakarta dan tempat-tempat lain untuk mencari penghidupan.

3.Masa Gereja Dewasa  Berpendeta Jemaat (Zelfonderhoud) (1939-2009)

  1. Masa Pelayanan Pendeta Saido Atmo Soemarto (1939 – 1973)

Setelah hampir 40 tahun jemaat Temon didewasakan (selfregeering) yakni dianggap mampu menata sendiri, maka sejak tahun 1939 Saido Atmo Soemarto dipersiapkan untuk waktu kurang lebih empat tahun baru ditahbiskan sebagai pendeta jemaat yang pertama di jemaat Temon (zelfonderhoud). Pendeta S. Atmo Soemarto selain berlatar belakang kursus guru Injil juga kursus jururawat. Beliau berasal dari Dermosari, Bagelen, Purworejo.

Selama pelayanan pendeta Saido Atmo Soemarto dalam masa pendudukan Jepang yang amat berat kehidupan sosial-ekonomi dan masa transisi karena perang kemerdekaan, jemaat Temon praktis sulit berkembang. Apalagi ketika Jepang datang untuk  melucuti tentara Belanda, dusun Kaliwangan Lor, Temon Kulon, menjadi tempat persembunyian tentara Belanda. Orang Kristen di Temon baik secara langsung maupun tidak langsung terkena dampaknya. Demikian selanjutnya memasuki masa-masa pemerintahan Orde Lama, suasana kurang kondusif hubungan di antara warga masyarakat. Terutama orang Kristen di Kaligintung dan Kedundang banyak yang mundur, selain karena tekanan tokoh masyarakat, juga takut dicap antek Belanda. Berdasar statistik jemaat pada tahun 1954, jemaat Temon berjumlah 139 jiwa.

Seiring dengan keputusan sidang Sinode Persatuan 1949 dan sejak 1956, nama Pasamoewan Kristen Gereformeerd ing Temon diganti menjadi Gereja Kristen Djawa di Temon, namun  ke-Jawa-an dari GKJ tidak lebih dari sekadar mengganti Gereformeerd menjadi Jawa. Sebutan Jawa, lebih bertalian dengan suku dan bahasa Jawa bukan dalam konteks identitas kultur budaya Jawa.

Pada masa pelayanan Pdt. Saido Atmo Sumarto, jemaat yang ada di Glagah dan sekitarnya, diizinkan mengadakan kebaktian sendiri atau disebut pepanthan, sejak tahun 1940, di rumah simpatisan Kristen yang bernama Amat Wirya. Baru beberapa tahun kemudian Amat Wirya menjadi Kristen. Setelah duabelas tahun berjalan, pada tahun 1952 tempat ibadat berpindah di rumah Ayemosuwito, sempat mendirikan rumah gereja di tanah keluarga Padmowihardjo, tetapi tidak berselang lama, didirikan gedung gereja semi permanen di tanah hibah Hardjo Pawiro pada tahun 1978 hingga 2005. Walaupun Hardjo Pawiro belum Kristen namun simpati dengan orang Kristen, sehingga dengan sukarela menghibahkan tanahnya untuk didirikan gereja. Dia tidak sempat menjadi dibaptis dan Kristen hingga wafatnya.

  1. Masa Pelayanan Pendeta Budi Sudarto (1973 – 1980)

Tidak berselang lama setelah Pdt S. Atmo Soemarto memasuki masa emiritus pada tahun 1973, dipersiapkan dan akhirnya ditahbiskanlah Budi Sudarto sebagai pendeta jemaat kedua. Pdt. Budi Sudarto sebelum ditahbiskan, telah beberapa waktu berada di Temon dalam rangka dipersiapkan.

Pdt. Budi Sudarto yang berasal dari Klaten dengan latar belakang pendidikan sarjana muda teologia dari Sekolah Tinggi Teologi di Yogyakarta. Pada masa pelayanannya ada beberapa perubahan yang terjadi dalam kaitannya kehidupan bergereja di tengah-tengah masyarakat. Agaknya dia memiliki prinsip yang kuat bahwa semestinya yang harus ditampilkan jemaat Kristen di tengah-tengah masyakarat, sehingga ia terkesan tidak lagi ‘loyal’  terhadap ‘budaya Kristen’.

Panenan Injil besar-besaran terjadi di Seling semasa kependetaan Budi Sudarto.yang gigih mengadakan pekabaran Injil (PI) melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang sosial-ekonomi. Perkembangan yang pesat dengan adanya “panenan besar-besaran“ itu ditandai dengan baptisan 116 orang dari wilayah dusun Seling, Kebonrejo, Temon pada 25 Desember 1977  dan bahkan tidak berapa lama setelah itu berdirilah gedung gereja di Seling.

Selain itu juga banyak petobat baru dari desa Kalidengen dan dusun Kaliwangan Kidul,  desa Temon Kulon. Baptisan massal yang sebagian besar dari warga dusun Seling, karena simpati terhadap kekristenan yang baik hati. PI model pemberdayaan sosial-ekonomi waktu itu barangkali menjawab pergumulan masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi. Sebagian besar dari mereka yang dibaptis itu adalah warga masyarakat yang mendapat ‘pinjaman’ modal usaha berupa uang dan ternak sapi. Bahwa PI dengan metode pemberdayaan ekonomi masyarakat pada zaman itu cukup berhasil, terbukti dengan berbondong-bondongnya orang masuk Kristen. Namun pelayanan beliau tidak berlangsung lama. Pdt. Budi Sudarto sebagai pendeta hanya sekitar 6 tahun, yakni pada tahun 1980 beliau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pendeta.

  1. Masa Pelayanan Pendeta Kuswala Sasono Budiarto (1984 – 1991)

Pdt. Kuswala Sasono Budiarto sebelumnya menjadi pendeta di Gereja Kristen Lampung Sumatra. Beliau berlatar belakang pendidikan kursus teologi di Yogyakarta, yang semasa melayani di GKJ Temon sempat kuliah di sebuah sekolah tinggi agama Kristen Yogyakarta. Beliau menjadi pendeta di GKJ Temon empat tahun setelah Pdt. Budi Sudarto mengundurkan diri dari jabatan pendeta.

Semasa pelayanannya ada peristiwa memilukan. Sebagian warga jemaat GKJ Temon yang ada di wilayah Kalidengen “dibawa” pindah ke GKJ Wates. Bedhol Warga itu sebagai puncak konflik antara salah satu Majelis GKJ Temon yang berdomisili di Kalidengen dengan  Pdt. Kuswala S.B. yang dituding sebagai otak kebijakan “penggembalaan” terhadapnya karena perilakunya dianggap  tidak mencerminkan sebagai orang Kristen. Tidak berselang lama peristiwa bedhol  warga itu didirikanlah gedung gereja Kalidengen sebagai wilayah pepanthan GKJ Wates. Tidak berselang lama dari peristiwa  bedhol warga itu pelayanan Pdt. Kuswala S. Budiarto di GKJ Temon terhenti. Hanya sekitar tujuh tahun, jabatan kependetaannya ditanggalkan.

  1. Masa Pelayanan Pendeta Kristian Prawoko (1997 – ….)

Pendeta Kristian Prawoko ditahbiskan sebagai pendeta jemaat GKJ Temon keempat pada tanggal 27 Agustus 1997. Ia berasal dari Kroya, Cilacap dan berlatar belakang pendidikan Strata Satu di Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia Yogyakarta. Yang pada tahun 2005 – 2007 menempuh jenjang S2 Master Ministry di UKDW Yogyakarta. Pada awal masa pelayanannya, tidak banyak mengambil langkah baru apalagi berkaitan dengan adat-istiadat serta tradisi Jawa. Peristiwa berhentinya pelayanan dua pendeta sebelum waktunya, menjadi perenungan yang mendalam.

Dalam Tata Gereja  pasal 40 membicarakan khusus tentang sikap terhadap budaya atau adat-istiadat dalam Pemberitaan Injil, yang isinya sebagai berikut : Gereja dapat menerima bentuk-bentuk budaya atau adat-istiadat dengan (1). Mengeluarkan makna religius filsafatinya yang bertentangan dengan Injil. (2). Memberi makna religius yang baru sesuai dengan Injil. Dengan adanya Tata Gereja itulah merasa ada “angin segar” untuk semakin intens membicarakan tentang sikap antagonis GKJ Temon selama ini terhadap adat –istiadat dan tradisi Jawa.

Waktu berjalan perlahan, seiring semakin tumbuhnya kesadaran bahwa pentingnya membangun relasi yang baik dengan masyarakat dengan mengembangkan pola inklusif, bergaul secara elegan dan sehat dengan warga masyarakat. Prinsip dalam hal relasi dengan masyarakat luas adalah ajur-ajer dhatan kejuran lan kejeran. Yang kurang lebih artinya kita harus bergaul dengan siapapun namun demikian identitas diri jangan dilupakan, jangan sampai terpengaruh hal-hal yang sifatnya merusak iman Kristen. Dengan memahami adat istiadat lewat pemilah-milahkan itu, namun dapat melangkah untuk menerima dan melaksanakan suatu adat istiadat (sejauh itu mungkin) dengan :

  1. Menerima bentuk simbolisnya, dan itu berarti dapat menggunakannya /melaksanakannya;
  2. Melepaskan latar belakang/dasar filsafatinya/agamawinya, dan menggantinya dengan dasar agamawi (dasar theologis) iman Kristen;
  3. Melepaskan makna simbolisnya, dan menggantinya dengan makna yang baru sesuai dengan latar belakang/dasar yang baru, iman Kristen.

Masa pelayanan Pdt. Kristian Prawoko bisa dikatakan mendapat angin segar berkaitan adanya perubahan sikap secara legal formal sinodal gereja GKJ dengan sikap dan perilaku terhadap adat-istadat-tradisi Jawa yang termuat Tata Gereja GKJ. Hal lain juga selain tokoh-tokoh generasi pertama dan kedua jemaat Temon praktis telah surut, generasi ketiga juga sudah tinggal satu-dua yang bersikukuh pada ajaran “budaya Kristen”. Dan tak kalah penting juga Tata Gereja GKJ 1998 sebagai pedoman kehidupan bergereja  menata dan mengatur sikap GKJ terhadap adat-istiadat atau budaya Jawa. Penjemaatan yang secara berkesinambungan terus dilakukan baik melalui ajang sarasehan, Pemahaman Alkitab, Kotbah, juga pada saat-saat renungan persekutuan doa syukur.

Perkembangan jemaat yang pelan tapi pasti, tiap tahun jumlah warga mengalami pertambahan. Sebenarnya secara riil jumlah pertambahan cukup menggembirakan. Namun keadaan jemaat yang berada di wilayah kultur pedesaan-agraris, kecil kemungkinan mempertahankan generasi mudanya tetap tinggal di desa. Hampir tiap tahun generasi muda mencari penghidupan di kota dan demikian pula status keanggotaannya pindah di kota di mana mereka bekerja.

Dalam hal pelayanan ibadat rutin Minggu dilaksanakan di semua gedung gereja baik induk Temon dua kali jam ibadat (07.00 dan 09.00 WIB), pepanthan Seling dua kali jam ibadat (09.00 dan 18.00 WIB), pepanthan Glagah (09.00 WIB) dan pepanthan Kalidengen (07.30 WIB) masing-masing satu kali jam ibadat Ibadat dilayani  dengan pengantar bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Pepanthan Kalidengen yang pernah bedhol warga ke GKJ Wates pada tahun 1980-an, pada 3 Oktober 2005 kembali menjadi bagian integral GKJ Temon.

Dalam perjalanan waktu tanah hibah yang telah sekian puluh tahun didirikan Gedung gereja tersebut diperkarakan oleh ahli waris Hardjo Pawiro. Ketidaknyamanan warga jemaat Pepanthan Glagah atas memerkaraan tersebut akhirnya bertekad bulat untuk bisa mendirikan tempat ibadat di tempat lain. Ketika sedang berupaya mencari tempat untuk pindah adalah seorang warga jemaat di Pepanthan Glagah yang berstatus janda dengan senang hati merelakan tanahnya untuk didirikan gedung gereja secukupnya. Akhirnya pada tahun 2006 mulai dibangun tempat ibadat dengan desain bahtera hingga lebih dikenal dengan gereja bahtera dengan ukuran yang lebih leluasa untuk ukuran gereja pepanthan yakni panjang tiga puluh meter dan lebar sembilan meter.

  1. Hikmat Yang Didapat dari Sejarah Gereja Kristen Jawa Temon
  2. Menumbuhkan dan Menghadirkan Kearifan Lokal.

Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai moral dan sosial, Gereja menjadi menjadi bagian yang memiliki daya tahan yang tidak hanya bagaimana membendung perubahan, melainkan juga bagaimana ikut menentukan arah perubahan. Kesadaran bahwa dirinya (Gereja) adalah bagian dari komunitas plural mesti hadir secara insklusif dan pluralistik. Gereja di tengah lingkungan turut menentukan kehidupan dan  menyejarah secara arif, tanpa kehilangan jati dirinya. Penghayatan untuk menumbuhkan dan menghadirkan kearifan lokal menjadi penting dalam rangka melaksanakan misi syalom di bumi.

  1. Karakteristik dan Kejelasan Identitas.

Gereja sebagai bagian dari kehidupan bersama yang lain, yang mana kehidupan bersama yang lain itu masing-masing memiliki karakteristik dan identitas yang khas. Bilamana Gereja hadir sebagai bagian dari kehidupan bersama yang demikian itu, namun tidak memiliki karakteristik dan identitas otentik, pasti akan kehilangan ke-siapa-an dirinya. Kekhasan karakteristik yang di luar konteks hidupnya akan mengalami kekeringan penghayatan eksistensial terhadap relasi personal dengan Allah. Jangan sampai kehilangan identitas yang jelas akan mengakibatkan Gereja (baca: GKJ) tidak mampu memenuhi fungsinya, baik untuk menjadi berkat bagi banyak orang, maupun sebagai pemegang mandat Allah guna mengembalikan dan memelihara suasana kehidupan firdaus.

  1. Modifikasi nilai-nilai Kultural

Di dalam membudidayakan diri dan potensi alam untuk pelaksanaan hidup, manusia  juga merancang tata perilaku untuk kehidupan bersama (suku bangsa atau bangsa), itulah budaya dan adat-istiadat. Adat-istiadat dan Tradisi lokal adalah hasil budi daya manusia lokal yang sejak nenek moyang turun-temurun dilakukan. Kita sadar bahwa adat-istiadat dan tradisi sebagai warisan nenek-moyang yang bukan dari masyarakat Kristen, yang tentu dasar agamawinya berbeda bahkan bisa jadi bertentangan. Dalam rangka menentukan jati dirinya Gereja mesti mampu memodifikasi nilai-nilai kultural masyarakat di mana ia berada dan menjadi bagiannya, agar memiliki relevansi dengan ungkapan penghayatan iman dan perkembangan masyarakat. Transmutasi dasar dan transmutasi makna sebagai langkah semestinya dilakukan dalam rangka memodifikasi nilai-nilai kultural dari adat-istiadat dan tradisi lokal. Transmutasi yang dimaksud dilakukan agar nilai-nilai filsafati adat-istiadat dan tradisi lokal yang sekiranya bertentangan dengan ajaran filsafati Kristen, dapat diberi muatan baru dengan nilai-nilai filsafati Kristen.

-***-

Link Update Pembaharuan