Info Kontak:

: Jl. Jend. Gatot Subroto No.63, Wonokarto, Wonogiri 57616

: 0273 5328817

: gkjwonogiriutara@gkj.or.id

Pendeta:

Pdt. Sebastian Moor Hasmoto

Jadwal Ibadah:

Data Jadwal Ibadah Belum Tersedia

Profil dan Sejarah:

SEJARAH GEREJA KRISTEN JAWA WONOGIRI UTARA

 GKJ Wonogiri Utara Pepanthan Gemantar

Berasal dari desa Gemantar, yang diawali dari hasil Pekabaran Injil secara perorangan oleh Bapak Petrus, Bapak Stefanus, dan Bapak Eroban dari Gereja Kristen Djawa Sala, serta dari Bapak Yokanan dari Semarang. maka ada beberapa warga yang percaya dan mengikut Kristus. Penerima pertama dan percaya Yesus serta menjadi Kristen adalah Ki Karsosemito yang ada di dukuh Ngaliyan dan menerima Permandian Suci pada tahun 1917, bersama 6 keluarga lain.

Perkembangan selanjutnya dilakukan pembelajaran/penggembalaan di Gemantar oleh Ds.Van Andel dari GKD (Gereja Kristen Jawa) Margoyudan Sala. Semenjak 1918 mulailah bertambah pengikut Kristus, sehingga pada tahun 1919 dilakukan Baptisan atas 8 orang Gemantar.

Pekabaran Injil dari Gemantar dilakukan ke arah Utara yaitu Kepuh Nguter, ke Barat yaitu ke Bulubadran, dan ke Selatan yaitu Wonogiri. Pada tahun 1925 terbentuklah kelompok mandiri sebagai Pepanthan Gemantar dengan Majelis Gabungan dari Gemantar, Kepuh Nguter, Buluniron dan Ngambil-ambil. Sejak saat itu Pepanthan Gemantar mempunyai Guru Injil yaitu Bapak Imanuel. Pepanthan Gemantar dengan induk di GKD Sala, pada tahun yang sama ada penambahan jumlah warga 7 orang. Seorang warga Gemantar Ki Yusup melakukan PI dengan cara menjual tulisan/buku Kristen (kolportur) sampai ke Ngadirojo,

Pada tahun 1927 Perjamuan Kudus untuk Pepanthan Gemantar dilayani oleh Ds. Van Andel dan Ds. Van Iyk. Pada tahun ini pula Ki Martorejo ditugaskan menjadi Guru Injil di daerah Wonogiri.

Pada tahun 1930 Gemantar dan Wonogiri bergabung dinyatakan sebagai Gereja Dewasa yang menjadi binaan GKD Margayudan Sala. Pada tahun 1934 dibangunlah gedung gereja di atas tanah Ki Karsosemito (sekitar tahun 2005 dirobohkan). Pada tahun 1936 dibangun Poliklinik zending melayani masyarakat umum di Gemantar yang kemudian dikelola oleh YAKKUM. (sejak tahun 2000 dijadikan pastori GKJ Wonogiri Utara)

Pada tahun 1931 GKD Gemantar dan Wonogiri memanggil Pendeta. Pada Sidang Klasis Gereja-Gereja Kristen Jawa di Margoyudan  menetapkan Ds. M. Mitrotanoyo seorang Guru Injil dari Klaten sebagai pendeta pertama. Beliau ditahbiskan pada 21 Oktober 1931. Selama kepemimpinan Ds. Mitrotanoyo perkembangan Wonogiri lebih pesat dari Gemantar. Oleh karena itu zending membelikan tanah untuk pengembangan Injil di Wonogiri. Sedangkan Gemantar semakin menurun. Pada persidangan Klasis Sala tanggal 27 – 29 Juli 1950 di Margoyudan, GKD Gemantar menjadi Pepanthan dari GKD Wonogiri. Semenjak 30 Maret 2001 Gemantar menjadi bagian dari GKJ (Gereja Kristen Jawa) Wonogiri Utara.

Perkembangan jemaat Pepanthan Gemantar sekarang ini berprofesi sebagai PNS, karyawan swasta, pedagang, dan petani. Jemaat Gemantar jumlah jiwa ada 71 orang. Bahkan masih ada warga yang berasal dari keturunan Ki Yusup yaitu Dewi Asih (Cucu); Sri Sundari (Cucu) ibu Sudiyem adik dari Ki Karsosemito.

GKJ Wonogiri Utara Pepanthan Tandon

Jemaat Kristen di Tandon diawali tahun 1966/1967 oleh Bapak Siswo Saputra, Ibu Sri Hadi, keduanya adalah guru, dan Bapak Sartono Pujohartono yang bekerja sebagai mantri kesehatan. Ketiga orang ini menemui Bapak Siswo Wardoyo seorang mantri kesehatan yang juga Majelis GKJ Wonogiri Pepanthan Gemantar. Pada sidang Majelis GKJ Wonogiri maka atas ijin Pemerintah diadakan penyuluhan Agama Kristen di Desa Pare Dusun Tandon dan Tlogorejo bertempat di rumah Bapak Sartono Pujohartono. Peserta penyuluhan pada awalnya memang banyak, tetapi berangsur-angsur berkurang.

Akhir tahun 1968 dilakukan ketekisasi bagi yang akan Baptis. Pada katekisasi ini diberikan bantuan berupa buku “Babad Suci” dan “Kidung Jawa”. Jumlah warga yang menginginkan Baptis dari keluarga Bapak Siswa Saputra, keluarga Ibu Sri Hadi, keluarga Bapak Sartono, keluarga Bapak Mitra Wiyana, keluarga Bapak Parto Wiyono, keluarga Bapak Parto Wikrama. Jumlah keluarga ada 7 dengan jiwa 44 orang. Baptis dilayani oleh Pendeta Hasto Soemarto.

Pertumbuhan jemaat Kristen di Tandon semakin maju. Pada tahun 1975 an Bapak Teguh Sri Wardana, B.A. (Camat Selogiri) memotivasi jemaat Tandon untuk memiliki gedung gereja. Oleh karena itu Majelis GKJ Wonogiri Pepanthan Tandon mengajukan ijin kepada Pemerintah dan masyarakat sekitar untuk mendirikan tempat ibadah. Gedung gereja dibangun dengan gotong royong oleh jemaat Tandon dan dibantu dari GKJ Wonogiri sebagai induk. Gedung gereja terletak di tanah Pemerintah tanah Pengairan. Gedung ini pernah rusak dan roboh, sehingga dibantu untuk pembangunan lagi oleh Bapak Teguh Sri Wardana (sebelum pindah ke Semarang) berupa uang Rp 300.000,00. Pada tahun 1984 direnovasi dan digunakan untuk ibadah kembali.

Pada tahun 1995 jemaat Tandon membeli tanah hak milik. Pada tahun 2009 mulai dibangun gedung baru gereja.  Pada 25 Desember 2012 digunakan untuk ibadah Natal pertama di gedung baru. Gedung ini dibangun oleh generasi kedua dari jemaat Tandon mula-mula.

Jemaat Tandon semakin maju bertumbuh dengan bertambahnya warga yang berdomisili di Perumahan Sendang Siwani. Saat ini warga Tandon bekerja sebagai petani, pedagang, karyawan swasta dan PNS.  Jumlah jemaat Tandon ada 62 jiwa dari 16 KK. Sebagian besar merantau. Jumlah jemaat tersebut juga ada yang berasal dari keturunan jemaat Tandon mula-mula, yaitu dari keluarga Bapak Siswo Saputro adalah Agus Haryono, Ninik Risdyanti; keluarga ibu Sri Hadi yaitu Suwartono, Sriyati, Sumarmo; keluarga Sartono Pujohartono adalah Singgih Dwi Ratno; dan keluarga Parto Wikromo adalah Sukatni.

GKJ Wonogiri Utara Pepanthan Gegeran

Tersebarnya benih Injil di Gegeran berawal pada tahun 1969 oleh Bapak Sugijanto dan Bapak Atmosutirto. Pengenalan Injil Bapak Sugijanto berasal dari Bapak Kasni jemaat Gereja Baptis Indonesia di Wonogiri, sedangkan Bapak Atmosutirto mengenal Kristus dari Bapak Dawoet Indriarto jemaat GKJ Wonogiri.

Berkat bimbingan Tuhan dua orang tersebut dari dua denominasi gereja, dilakukan percakapan minta pembinaan lebih lanjut dari GBI atau GKJ. Akhirnya disepakati warga memilih dari GKJ dan memohon dengan melampirkan daftar warga untuk mendapat penggembalaan dari GKJ Wonogiri. Katekisasipun untuk persiapan Baptis dilakukan.

Pada tanggal 27 Desember 1970 dilayani Baptis sebanyak 20 jiwa oleh Pendeta Hasto Soemarto dari GKJ Wonogiri. Pada tanggal tersebut sekaligus peresmian Pepanthan Gemantar, dan ibadah serta acara Perayaan Natal pertama kali di Gegeran.

Pada tahun 1977 Pemerintah Desa Pule memberi tanah 350 m² berkontur jurang, dan setiap tahundapat bantuan untuk membangun gedung gereja. Pada tahun 1979 – 1980 dimulailah menimbun jurang. Pada tahun 1984 mulai dibangun gedung gereja. Pada 6 Januari 1985 pertama kali gedung gereja ini digunakan untuk ibadah.

Rata-rata jemaat Gegeran berprofesi sebagai petani dan pedagang. Jemaat Gegeran sekarang sebagian besar merantau, sehingga yang aktif bergereja di Gegeran berjumlah 27 orang dari total 44 jiwa. Sebagian besar merantau. Keturunan jemaat mula-mula Gegeran yang masih aktif bergereja di sini antara lain dari keturunan bapak Sugiyanto yaitu  Sri Suharyanti, Iskak Basuki Rahmat.

GKJ Wonogiri Utara Induk Wonokarto

Pendeta Hasto Soemarto pada tahun 1966 – 1968 memberikan penyuluhan Injil di Giriwono yaitu pada keluarga Bapak Tartimin dan Bapak Trisno Wardoyo. Pada 9 Februari 1969 di GKJ Wonogiri dilayankan Baptis untuk keluarga Bapak Tartimin dengan 4 jiwa dan keluarga Bapak Trisno Wardoyo dengan 5 jiwa oleh Pdt. Hasto Soemarto. Dari dua keluarga tersebut kemudian di kelompok Giriwono bertambah keluarga Ibu Harti Daryono, Ibu Darwanto, Sdr. Rastoto, Sdr. Suharno, Bapak Sukasdi, Ibu Sukiyati Soetarmo, bertambah lagi keluarga Budi Praptono.

Wonokarto merupakan bekas hutan Kethu.  Wonokarto pada tahun 1975 perkembang pesat karena terjadi penambahan penduduk yang berasal dari daerah pembangunan Waduk Gajah Mungkur, yang berasal dari daerah Nguntoronadi, dan sebagian dari Baturetno dan Wuryantoro.

Penduduk pendatang itu membentuk kelompok Giriwono dan Wonokarto. Sejak tahun 1977 melebur menjadi kelompok Wonokarto. Sejak itu pula kelompok Wonokarto mengadakan kebaktian ibadah sendiri di bawah pengajaran GKJ Wonogiri. Hal ini terjadi karena Wonokarto mempunyai gedung gereja sendiri. Biarpun gedung gereja itu sangat sederhana berbentuk limasan dengan dinding batu bata dan papan triplek atau semi permanen, dengan lantai tegel semen, sehinga sering jemaat menamakan gedung ini dengan istilah “Pagupon” (kandang merpati). Sebenarnya istilah ini juga pas karena merpati dilambangkan sebagai Roh Kudus, sehingga “Pagupon” GKJ Wonogiri Kelompok Wonokarto ini sebagai rumah ibadah orang yang dipenuhi Roh Kudus.

Pada tahun 1986 dirintis pembangunan gedung gereja yang lebih besar dari yang sudah ada. Perintisan pembangunan dengan panitia antara lain Bapak Atmadi, B.A, Bp. Tartimin, Bp. Budi Praptono, Bp. Suprapto, Bp. Soerono DS, Bp. Drs. Sumiarso, Bp. Suyanto, Bp Suhardi, Bp. Arista Istijab, Bp. Sutjipto, Bp. Wiyono, B.E, Bp. Drs. Samino HS, Bp. Suparyo, Bp. Andreas Watiyo, Bp. Wariyo, Bp. Sri Hendriyatno, Bp. Rastoto. Pelindung Majelis GKJ Wonogiri, dan pekerja seluruh jemaat dengan gotong royong.

Panitia pembangunan rapat pertama kali 5 Maret 1986 dan peletakan batu pertama oleh Pdt. Suyadi Hadinugroho, S.Th. pada tanggal 30 Maret 1986. Pembangunan ini dibiayai oleh jemaat dengan berbagai talentanya, dan mendapat dana dari Pemerintah melalui APBD Prov. Jawa Tengah dan Kanwil Departemen Agama Prov. Jawa Tengah. Besar bantuan dana dari Pemerintah tersebut total Rp 10.000.000,00.

Semangat gotong-royong jemaat dalam menyelesaikan pembangunan gedung pada Minggu, 7 Juni 1987 dinyatakan selesai. Bahkan gedung gereja pada hari tersebut digunakan untuk ibadah bersama jemaat GKJ Wonogiri dalam rangka Pentakosta yang dipimpin oleh Pdt. Herman, S.Th dari LPK Yogyakarta.

                Jemaat dalam pemeliharaan iman semakin berkembang. Pada 1 Januari 1995 kelompok Wonokarto resmi menjadi Pepanthan Wonokarto. Pada saat tahun 1999 warga dewasa sekitar 200 orang. Sejak itu Pepanthan Wonokarto dibagi tiga, yaitu kelompok Wonokarto Timur, Wonokarto Tengah, Wonokarto Barat ditambah dari warga yang berdomisili di Perumahan Giri Asri. Pada awal tahun 2020 keadaan jumlah warga Wonokarto Timur ada 59 orang dengan KK 26. Wonokarto Tengah ada 74 orang dengan KK 23. Wonokarto Barat ada 109 orang dengan KK 38.

Pertambahan warga Pepanthan Wonokarto yang makin banyak, menumbuhkan motivasi untuk menjadi gereja dewasa. Oleh karena itu pada tahun 1999 dikoordinasikan antara Pepanthan Wonokarto, Tandon, Gemantar, dan Gegeran. Hasil koordinasi diperoleh kesepakat untuk menjadi satu gereja dewasa dengan menjadikan Wonokarto sebagai Gereja Induk. Pada tahun 2000 Majelis GKJ Wonogiri membentuk Panitia Pendewasaan dan Pemanggilan Pendeta GKJ Wonogiri Wilayah Utara.

Akhir tahun 2000 Majelis GKJ Wonogiri mengusulkan Pendewasaan dan Pemanggilan Pendeta GKJ Wonogiri Wilayah Utara pada Sidang Klasis Gereja-gereja Kristen Jawa Wonogiri XVIII yang dihimpun GKJ Wuryantoro. Secara resmi usulan Pendewasaan dan Pemanggilan Pendeta diterima dan disepakati. Pada awal tahun 2001 dalam Sidang Klasis Wonogiri XIX di GKJ Wonogiri Pepanthan Wonokarto diadakan Sidang Kontrakta untuk Saudari Nani Minarni, S.Si sebagai calon Pendeta GKJ Wonogiri Wilayah Utara.

Pada tanggal 30 Maret 2001 GKJ Wonogiri Wilayah Utara secara resmi didewasakan dengan nama GKJ Wonogiri Utara. Pada saat itu pula penahbisan Sdri. Nani Minarni, S.Si. sebagai Pendeta. Pelayanan pemeliharaan iman jemaat di GKJ Wonogiri Utara semakin bertumbuh dan kuat.

Pada tahun 2012 Pdt. Nani Minarni kuliah Pasca Sarjana di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijogo Yogyakarta, lulus dan bergelar Magister Humaniora pada tahun 2014. Pada saat 2012 – 2014 pelayanan tetap dilakukan oleh Pdt. Nani Minarni, tanpa konsulen.

Jumat 26 Juni 2015 GKJ Wonogiri Utara bersama dengan Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Duta Wacana Yogyakarta dan Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa mengadakan kesepakatan dalam rangka pengutusan Pdt. Nani Minarni, S.Si, M.Hum. sebagai Pendeta Pelayanan Khusus  Universitas Duta Wacana Yogyakarta. Sejak itu GKJ Wonogiri Utara sebagai gereja pengutus PPK. Selain itu antara Pdt. Nani Minarni dengan GKJ Wonogiri Utara juga mengadakan kesepakatan bersama. Pada hari Jumat 30 November 2018 di Salatiga bertempat di kantor Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa dilakukan penandatanganan alih tugas Pdt. Nani Minarni dari GKJ Wonogiri Utara ke GKJ Brayat Kinasih. Sejak itu Pdt. Nani Minarni pindah pelayanan dari GKJ Wonogiri Utara. Peneguhan Pdt. Nani Minarni, S.Si., M.Hum sebagai PPK oleh GKJ Brayat Kinasih dilaksanakan 21 April 2019.

Majelis GKJ Wonogiri Utara mengusulkan konsulen pada Sidang Klasis Wonogiri XXXIV tahun 2016 di GKJ Wuryantoro, hasilnya ditetapkan 2017 konsulen Pdt. Yehezkiel Prasetyo Adi dari GKJ Wuryantoro.  Sidang Klasis Wonogiri XXXV di GKJ Eka Kapti tahun 2017 ditetapkan 2018 konsulen Pdt. Dyan Sunu Prakosa dari GKJ Baturetno,  Sidang Klasis Wonogiri XXXVI di GKJ Baturetno Pepanthan Kudi tahun 2018 ditetapkan 2019 sampai tahbis pendeta GKJ Wonogiri Utara dengan konsulen Pdt. Sumardiyono dari GKJ Giri Kinasih.

Sesuai dengan rencana stategis tahun 2015 – 2020 GKJ Wonogiri Utara yang salah satu isinya pemanggilan pendeta kedua. Oleh karena itu Majelis GKJ Wonogiri Utara itu tahun 2015 menetapkan Panitia Pemanggilan Pendeta. Proses yang dikerjakan dalam pemanggilan pendeta membuahkan hasil. Sdr. Sebastian Moor Hastomo, S.Si. Teol ditetapkan dalam Sidang Majelis GKJ Wonogiri sebagai calon pendeta. Majelis GKJ Wonogiri Utara membentuk Tim Pembimbing Orientasi Calon Pendeta. Masa orientasi masa pembimbingan sejak April 2017, dan mendapat rekomendasi untuk maju ujian calon pendeta. Rekomendasi yang dibuat oleh Majelis GKJ Wonogiri Utara digunakan sebagai pelengkap ujian calon pendeta. Ujian itu dilakukan pada Sidang Istimewa Klasis Wonogiri di GKJ Wonogiri pada 6 April 1918. Hasilnya layak Tahbis.

Mulai April 2018 setelah dinyatakan layak tahbis, maka Sdr. Sebastian Moor Hastomo, S.Si. Teol memasuki masa vikariat. Majelis GKJ Wonogiri Utara segera membentuk Tim Pendamping Vikaris. Masa vikariat dijalani oleh Vikaris Sebastian Moor Hastomo secara efektif mulai Mei 2018 sampai dengan 1 Mei 2019. Pada akhir Mei 2019 dilakukan percakapan antara Majelis GKJ Wonogiri Utara dengan Vikaris Sebastian Moor Hastomo, hasilnya vikaris belum mantap untuk melakukan tahbis, maka dalam Sidang Majelis GKJ Wonogiri Utara pada bulan Juni 2019 disepakati masa vikariat ditambah 6 bulan sampai 31 Oktober 2019. Pada bulan November 2019 kembali dilakukan percakapan antara Majelis GKJ Wonogiri Utara dengan Vikaris Sebastian Moor Hastomo, hasilnya vikaris sudah mantap untuk melakukan tahbis. Berdasarkan Sidang Majelis GKJ Wonogiri Utara ditetapkan Tahbis dilakukan bulan Maret 2020. Oleh karena itu segera dibentuk Panitia Pelaksana Tahbis sebagai kelengkapan dari Panitia Pemanggilan Pendeta.

Panitia Pelaksana Tahbis sebagai kelengkapan dari Panitia Pemanggilan Pendeta yang bekerja dengan efektif efisien, setelah diminta laporan ke Sidang Majelis GKJ Wonogiri, maka ditetapkan pelaksanaan tahbis  pada tanggal 28 Maret 2020.  

Perencanaan Pentahbisan pada Sabtu 28 Maret 2020 Vikaris Sebastian Moor Hastomo, S.Si. Teol ditahbiskan sebagai pendeta. Sebagai penanda tahbis ini diberi surya sengkala “Luhuring Bekti Nenga Panembah” yang bermakna “Perbuatan yang menyatakan setia, kasih, hormat, tunduk pada kemuliaan Allah dilihat dari perilaku ibadah dalam sembah raga, sembah karsa, sembah rasa, sembah cipta dan sembah jiwa, yang terwujud dalam iman, kasih, dan pengharapan.” Kegiatan tahbis ini bersamaan dengan rangkaian ulang tahun GKJ Wonogiri Utara yang ke-19. Ulang tahun GKJ Wonogiri Utara yang ke-19 pada 30 Maret 2020.

Perencanaan Pentahbisan di atas sesuai dengan edaran dari Kapolri tentang Maklumat Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor: Mak/2/III/2020 tertanggal 19 Maret 2020 tentang Kepatuhan Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (COVID-19) maka pelaksanaan Pentahbisan ditunda untuk mencari waktu dan cara yang tepat dalam Pentahbisan di masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu Majelis GKJ Wonogiri Utara melakukan koordinasi ke semua stakeholder termasuk para Pendeta se Klasis Wonogiri.

Berdasarkan kondisi pandemi Covid-19 yang juga belum mereda maka Sidang Majelis GKJ Wonogiri Utara menetapkan pelaksanaan Pentahbisan dengan tatap muka terbatas yang hanya di hadiri oleh Vikaris Sebastian Moor Hastomo, S.Si.Teol. 30 orang Majelis GKJ Wonogiri Utara, 8 Pendeta se Klasis Wonogiri, satu Pendeta dari GKJ Brayat Kinasih dan satu Pendeta utusan dari Sinode, sedangkan Jemaat yang hadir langsung di Gereja hanya yang bertugas dalam Peribadatan. Jemaat yang tidak hadir langsung ke Gereja dilayani dengan Ibadah Daring melalui Chanel Youtube TIM Multimedia GKJ Wonogiri Utara.

Tahbis Pdt. Sebastian Moor Hastomo, S.Si. Teol dapat terlaksana dengan lancar sesuai tata Ibadah Tahbis pada Kamis, 29 Oktober 2020. Tahbis ini menandai juga bahwa GKJ Wonogiri Utara sudah mempunyai Pendeta periode ke-2 yang akan melanjutkan melayani keturunan dari jemaat mula-mula Wonogiri Utara. Jemaat mula-mula yang keturunannya masih bergereja di GKJ Wonogiri Utara Induk Wonokarto antara lain keturunan Bp. Trisno Wardoyo yaitu Suharno Prihutomo; Ibu  Harti Daryono adalah Endang Susilowati, Rudi Handoyo; Bp. Rastoto adalah Ester Ida Prabandari; Bp. Suharno yaitu Dwi Purnomo; Bp. Sukasdi yaitu Diyassi, Krisdiyasmo; Ibu Sukiyati Soetarmo yaitu Sri Sayekti,  Sri Wuryanti; Bp. Budi Praptono yaitu Endang Jatiningsih; Bp. Suprapto yaitu Dewita Sari; Bp. Sutjipto yaitu Mursid Suroto, Sri Wahyana Wulandari; Bp. Drs. Samino HS adalah Sri Hartanto;  Bp. Suparyo adalah Aslyna;  Bp. Sri Hendriyatno adalah Kurniawan Dewantyo. (ditulis ulang oleh Pnt. Suharno Prihutomo)

Bacaan Rujukan

Ganjar Sungkowo Edi, Catatan Gereja Gemantar

Komisi Pemuda Kobar GKJ WU, 2002, Yesus Pusat Kehidupanku.

Sinto Wardoyo,  Catatan Gereja Gegeran

Suharno Prihutomo, Catatan Sejarah Gereja Wonokarto

Suwartono,  Catatan Sejarah Gereja Tandon

Link Update Pembaharuan