Info Kontak:

: Jl. MT. Haryono No.10, Manahan, Surakarta 57139

: –

: –

Gereja yang termasuk dalam Klasis:

  1. GKJ Manahan
  2. GKJ Kartasura
  3. GKJ Plaur
  4. GKJ Pajang Makamhaji
  5. GKJ Sabda  Winedhar
  6. GKJ Gebyog
  7. GKJ Gatak
  8. GKJ Sumber

*klik pada nama gereja untuk mengakses halamannya

Profil dan Sejarah:

Sekilas Sejarah Gereja Kristen Jawa “Kartasura”

Pada awalnya wilayah Kartasura dan sekitarnya merupakan wilayah perkabaran injil dari para pengikut Kyai Sadrach pada tahun 1920an. Akan tetapi para penginjil dari GKJ mulai masuk ke Kartasura kira-kira pada tahun 1928 di awali dengan kebaktian di rumah Bapak Martorejo, seorang penjual buku-buku Kristen tamatan guru injil tahun 1923. Kemudian pada tahun 1929 seorang guru injil Bapak Poer Soewito Mustoko mulai merintis kebaktian di sekolah rakyat tersebut dengan dibantu oleh Bapak Siswo Prasojo Seorang Guru, Bapak Sriyono seorang pengusaha, keluarga Liem Nick ing dan Guru Injil Martorejo. Pelayanan Bapak Martorejo sampai di Sambi, Simo dan Klaten. Jauh sebelum itu kira-kira tahun 1920 di Dukuh Pandeyan dan Mangkubumen juga sudah ada kelompok kebaktian yang diadakan oleh pengikut Kyai Sadrach yang di sebut dengan gereja Kerasulan.

Lalu sekitar tahun 1931 oleh Bapak Dwi Hatmjo Guru SR Kristen bersama teman-temannya mengupayakan adanya penggabungan antara pengikut Kyai Sadrach dengan warga GKJ dan pada tahun 1933 mulai dibentuk adanya majelis gereja. Selanjutnya pada tanggal 20 Desember 1935 kelompok kebaktian ini diakui menjadi gereja dewasa oleh Bapak Pdt. Ds. HA Van Andel dari GKJ Margoyudan.

Dalam perkembangannya GKJ Kartasura yang dewasa mengalami pertumbuhan yang pesat yaitu pada tahun 1952 datanglah seorang Kepala Sekolah Rakyat dari Kulon Progo, beliau adalah Bpk. K. Cipto Harjono menjadi warga GKJ Kartasura. Mulai tahun 1955 Bpk. K. Cipto Harjono di angkat sebagai Ketua Majelis Gereja, berkat kerjasama dengan Pendeta utusan Bpk. Ds. Purwowidagdo, Gereja dapat membeli tanah beserta rumahnya dari Bapak Anwar Santosa yang sampai saat ini ditempati gereja induk. Kehidupan warga Kristiani dari berbagai Denominasi di wilayah Kartasura sebenarnya telah terjalin akrab dan penuh kebersamaan sejak tahun 1956. Pada saat itu warga GKJ, GKI dan GUP sudah mengadakan pemasyuran injil bersama yang dipelori oleh Bapak Cipto Harjono, Bapak Efrayim, Bapak Ponco Iskandar, Bapak Wongso, Mbah Turut dan Bapak Sunarso.

Dengan kegiatan bersama itu, maka semakin banyak orang yang ingin menjadi Kristen dan wilayah pelayanan makin menyebar ke berbagai tempat meliputi Gebyok, Grogolan, Rejoso, Karang Duren, Kalitan, Ngabeyan, Denggungan dan sebagainya. Pada tanggal 1 Agustus 1957 GKJ Kartasura mulai mengangkat seorang Guru injil yang bernama Bapak Matius Manto Suwignyo, lalu tanggal 15 Agustus 1969 ditahbiskan menjadi Pendeta jemaat GKJ Kartasura. Perkembangannya GKJ Kartasura semakin maju, ditandai dengan wilayah yang semakin luas meliputi kabupaten Sukoharjo, Karangayar, dan Boyolali. Ada 11 tempat ibadah terdiri dari gereja induk dan 8 pepanthan. Satu ibadah Bangak dan Oikumene. Runtutan waktu berdirinya pepanthan dan kelompok ibadah secara kronologis dapat di catat sebagai berikut :

  1. Pepanthan Gebyok tanggal 26 Desember 1965 dan di dewasakan pada tanggal 1 Oktober 1997.
  2. Pepanthan Karang Duren didirikan tahun 1966, bertempat di rumah Bpk. Harto Sudarmo
  3. Pepanthan Grogolan/Pucangan didirikan tahun 1968 Bpk. Hadi Sumarto
  4. Pepanthan Rejoso didirikan tahun 1969, kebaktian di rumah Bpk. Dwijo Martono
  5. Pepanthan Denggungan didirikan tahun 1973, kebaktian di rumah Bpk. E Sagimin
  6. Pepanthan Mangurejo/Panasan Baru didirikan pada tanggal 4 Juli 1982, kebaktian di rumah Bpk. Suwarno K.
  7. Pepanthan Ngabeyan didirikan pada tanggal 7 Oktober 1984, kebaktian di rumah Bpk. Daman Tri Saputra, BA
  8. Pepanthan Purwogondo pada tanggal 2 Febuari 1986, kebaktian di Aula SMP Kristen Kartasura
  9. Kelompok ibadah Bangak mulai kebaktian pertama kalinya di rumah Bpk. Suparman.

 

Pada tanggal 25 Mei 1990 GKJ Kartasura mengangkat Bp. Pdt. Sri Widjaja, SM. Th sebagai Pendeta yang baru. Dikarenakan semakin luas wilayah pelayanan dan bertambahnya jemaat, maka GKJ Kartasura memikirkan untuk pembiayakan yaitu dengan 2 Grup. Grup 1 meliputi pepanthan Pucangan, Karangduren, dan Rejoso. Sedangkan Grup 2 meliputi pepanthan Ngabeyan, Denggungan dan Panasan Baru. Pembagian ini sudah melalui hasil studi masing-masing Grup kemudian mulai mengadakan kegiatan kebersamaan dan membentuk panitia persiapan pendewasaan. Di Grup 2 setelah beberapa kali diadakan perkunjungan oleh Deputat Keesaan Klasis Kartasura dan dengan pengarahan dan persyaratan yang harus di lengkapi oleh wilayah Grup 2, maka pada tanggal 23 Febuari 2002 dikabulkan untuk menjadi Gereja Dewasa pada Sidang Klasis ke XXVI artikel 9 dengan nama GKJ Sabda Mulya. Grup 1, Pepanthan Pucangan, Karangduren dan Rejoso menjadi gereja dewasa sejak tanggal 22 April 2005 yang ibadah pendewasaannya dilaksanakan di Gereja Kristen Oikoumene Adi Sumarmo Colomadu dengan nama GKJ Cipta Wening dengan Pdt. Setiyadi, S. Si. sebagai pendetanya. Sedangkan Gereja Kristen Oikoumene Adi Sumarmo Colomadu yang semula menjadi Kelompok/ wilayah pelayanan GKJ Kartasura, sekarang telah dewasa dan mandiri masuk menjadi anggota PGI dengan Pdt. Baresman Silitonga dari kesatuan AURI sebagai Pendeta dan pemimpin gereja.

 

 

Tanggal 20 Desember 2007 bertepatan dengan 9 windu GKJ Kartasura diselengarakan kebaktian Emeritasi Pdt. Sri Widjojo, SM. Th.

Dengan bertambahnya usia, jumlah jemaat dan pelayanan yang dilaksanakan oleh Gereja Kristen Jawa Kartasura, maka figur seorang Pendeta sungguh sangat diperlukan, sebab keberadaan seorang Pendeta mampu membawa arah pertumbuhan iman dan kerohanian serta menuntun, membimbing dan menjadi pamong dalam kehidupan spiritualitas berdasar atas kebenaran Firman Tuhan.

Setelah melalui proses panjang sejak pemanggilan Pendeta, maka GKJ Kartasura telah memiliki seorang Vikaris Pendeta yang dimulai sejak telah ditetapkan kelulusannya pada Ujian Peremtoir Calon Pendeta atas diri Sdri. Lidia Natalia, S.Si. (Teol.) pada tanggal 28 Oktober 2009.

Jemaat GKJ Kartasura memiliki kerinduan yang sangat besar untuk memperoleh seorang figur Pendeta yang definitif dan aktif untuk melayani sebagai gembala, sehingga pemeliharaan kerohanian jemaat GKJ Kartasura dapat senantiasa terperhatikan. Demikian pula, dari sisi kelembagaan kehidupan bergereja di GKJ Kartasura semakin sempurna karena pengelolaan gereja dapat ditopang melalui kepemimpinan kolektif yang utuh yakni oleh Pendeta, Penatua, dan Diaken.

Melalui pergumulan yang cukup panjang antara Jemaat dan Vikaris dengan bersosialisasinya Vikaris dalam arti ’ajur-ajer’ ditengah-tengah jemaat, dimana jemaat telah merasakan terjalinnya hubungan yang harmonis, dan saling membutuhkan, saling menopang berlandaskan kasih, maka Majelis GKJ Kartasura dalam Sidang Pleno pada tanggal 23 Maret 2010 telah memutuskan bahwa Vikaris telah layak dan dapat ditahbiskan dalam acara Ibadah Penahbisan Pendeta, dan Majelis GKJ Kartasura juga telah membentuk Panita Pelaksana Ibadah Penahbisan Pendeta, dengan SK no. 073/GKJ.Kts/IV/2010 Selanjutnya, Panitia Penahbisan Pendeta Ke-3 GKJ Kartasura dengan didukung dan dibantu oleh seluruh Jemaat GKJ Kartasura bersatu-padu mempersiapkan segala sesuatu demi terselenggaranya acara ibadah penahbisan tersebut secara baik, lancar dan dapat diikuti oleh seluruh Jemaat GKJ Kartasura dan disaksikan oleh berbagai tamu undangan.

Pada tanggal hari Selasa, 26 Oktober 2010 pukul 16.00 WIB diiringi dengan peristiwa erupsi gunung Merapi GKJ Kartasura mengangkat dan mentahbiskan Ibu Pdt. Lidia Natalia, S. Si. (Teol.) sebagai Pendeta ketiga GKJ Kartasura yang aktif hingga sekarang.